kulongok jendela lambada dingin
retina melanglang jalan
membiak sayuh mata dalam dalam
tersawang, becak diseberang jalan babaran
terlewat olehku yang duduk berjalan
jauh sebelum prapatan
kekanan prawirotaman
lurus gading ke kasultanan
penuh karet Mencius aspal
aku tak kunjung menepi
terpasung tersunggi aspal
Tuhan
jalanan kini bukan lagi jalan
namun tempat tidur ban-ban
namun
cakrawal berfikir
melonglong buana mndekati dimana aku berfikir
tentang lingkaran hitam yang tertidur.
menembus dimensi kecaman dan kegundahan yang tak berujung
berharap lingkaran hitam itu akan terbangun
dan mereka akan tertawa bangga
tersenyum
bahkan bersyukur menembur kucuran nikmat Tuhan
tersawang, becak diseberang jalan babaran
terlewat olehku yang duduk berjalan
jauh sebelum prapatan
kekanan prawirotaman
lurus gading ke kasultanan
penuh karet Mencius aspal
aku tak kunjung menepi
terpasung tersunggi aspal
Tuhan
jalanan kini bukan lagi jalan
namun tempat tidur ban-ban
namun
cakrawal berfikir
melonglong buana mndekati dimana aku berfikir
tentang lingkaran hitam yang tertidur.
menembus dimensi kecaman dan kegundahan yang tak berujung
berharap lingkaran hitam itu akan terbangun
dan mereka akan tertawa bangga
tersenyum
bahkan bersyukur menembur kucuran nikmat Tuhan

Komentar Yang Baik dan Benar!